Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Monday, March 6, 2017

Little Big Lies Review

Little Big Lies by HBO

Menemukan serial ini adalah sebuah ketidaksengajaan buat saya. Ketika memang sedang binge watching serial bertema sejenis, muncullah judul ini dan nama Reese Whitersponn serta Nicole Kidman. Wow, nama besar film ada di sebuah mini seri, dan tentunya nama besar HBO pasti keren. Hal yang membuatnya menarik bagi saya, yaitu pertemuan tiga pemeran utama ini plus Alexander Skargaard. Tanpa ekspektasi apa-apa dan thrill karena nama besar mereka, jadilah saya nonton.
Sejak awal, ketika melihat nama orang-orang yang terlibat dalam produksinya, dalam hati saya tahu kalau serial ini akan kelam dan bermuatan psikologis. And its true. Awalnya memang agak membosankan melihat keseharian para ibu-ibu ini. Drama receh karena anak di sekolah yang dibesar-besarkan, is just to low. Tapi ternyata, memang tidak sesederhana itu. Setiap orang punya alasan untuk melihat masalah yang nampak kecil ini menjadi hal yang besar. 

Sinopsis
Ketika karakter ini Jane (Woodley), Madeline (Whiterspoon) dan Celeste (Kidman) berteman karena anak-anak mereka satu sekolah. Madeline membawa Jane masuk ke inner circle-nya karena drama hari pertama sekolah. Drama hari pertama sekolah, mendekatkan ketiga ibu ini. Amabella, seorang anak di kelas mengalami bullying dan ia menunjuk Ziggy (anak Jane) sebagai pelakunya. Kisahpun terbuka sedikit demi sedikit, latar belakang Ziggy yang tanpa ayah membuat Jane ragu dan goncang. Muncul keraguan bahwa Ziggy bisa jadi pelaku bullying. Sementara itu Madeline terus menguatkan Jane si mamah muda bahwa Ziggy tidak mungkin jadi pelakunya.
Di samping Jane, para ibu ini juga menghadapi pergelutannya masing-masing. Celeste dengan hubungan rumah tangga yang penuh kekerasan, Madeline pun bergulat dengan kepelikan hubungannya dengan mantan suaminya. Kericuhan dalam rumah tangga ini memuncak di malam pesta penggalangan dana sekolah. Di ketahuilah, akar masalahnya. Siapa ayah kandung Ziggy? Dapatkah Celeste lepas dari jeratan hubungan abusive-nya? Dapatkan Madeline akur dengan istri dari mantan suaminya? Siapakah yang mati di pesta tersebut? Hingga siapakah pelaku bullying pada Amabella.

Review
Plot 
Mini series ini buat saya sangat woman empowering, pantas saja cast-nya perempuan-perempuan hebat. Kisah Little Big Lies mengupas kelamnya pikiran seorang wanita. Bagaimana kebohongan kecil (little lies) digunakan untuk menutupi peristiwa atau masalah besar. Bagaimana seorang perempuan breakthrough dan kurungan masalahnya. 
Ada 4 tema besar tentang perempuan di sini. Ibu bekerja diperankan oleh Laura Dern; mantan wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga dalam kehidupan rumah tangga yang penuh kekerasan oleh Nicole Kidman; Ibu rumah tangga yang mengalami separation anxiety dengan anaknya yang beranjak dewasa oleh Reese Whiterspoon; Single mother korban perkosaan oleh Shailene Woodley. Ke-empat ibu ini berjuang melawan kepelikan hidupnya. Di awali permusuhan, mereka akhirnya bersatu dengan perasaan senasib karena peristiwa pembunuhan yang mereka saksikan bersama. 
Para orang tua siswa menjadi saksi perseteruan mereka dari waktu ke waktu. Sampai tiba peristiwa pembunuhan, mereka merasakan kejanggalan ketika keempat ibu tersebut memberikan kesaksian serupa pada polisi. Setiap orang tua siswa punya dugaan akan siapa pelakunya dan apa motifnya. Hal ini diungkapkan dalam potongan interview dengan polisi di setiap episodenya. Akan tetapi berdasarkan kesaksian keempat ibu muda ini, pembunuhan tersebut adalah bentuk pembelaan diri. Pertanyaan sepanjang serial ini adalah siapa pelakunya? Apakah ini pembunuhan berencana atau bukan? Apa mereka sanggup melakukan pembunuhan, terlebih dengan kelamnya kehidupan mereka? Bisa jadi.
Sebenarnya dalam beberapa episode kita bisa tebak kok siapa ayah Ziggy. Clue-nya sangat jelas. No surprises at the end. Tapi yang menarik bukan itu. Meski endingnya terprediksi secara garis besar, ada twist yang bikin kita melongo. Seriously, i'm in awe. 

Karakter
Saya hanya bisa bilang "well played" dengan aktris se-kaliber mereka, akting dan pendalaman karakter di film ini "as expected". Dengan seketika kita akan masuk dan mendalami setiap karakter ibu-ibu ini dengan mudah. Buat saya akting terbaik jatuh ke Nicole Kidman dan Peter Skarsgaard. Peran sulit yang dieksekusi dengan baik, as expected. Mereka bisa menunjukkan akting brilian pada perubahan sikap bengis ke penuh cinta dalam waktu sangat singkat. Entah berapa take yang dibutuhkan, tapi hasilnya luar biasa. No wonder karakter Celeste diperankan oleh Nicole. 
Lain lagi kalau bicara karakter favorit, buat saya dia adalah Madeline Mackenzie yang diperankan oleh Reese. Karakter yang paling jelas mendeskripsikan ibu rumah tangga. Ibu yang dilanda segala macam kecemasan akan anak remajanya, ke-stagnan-an rumah tangga, sekaligus usaha mencari kesibukan agar perhatiannya dari masalah-masalah itu teralihkan. Madeline adalah karakter yang sangat membumi dan jamak. 

Setting
Bersetting di Monterey, dengan pemandangan pantai, deburan ombak kencang menghantam karang kita dibawa pada dimensi bahwa alam atau nature itu keras. Sementara kondisi sekolah serta rumah yang hangat seolah menyembunyikan kerasnya nature. It reminds me so much of "Revenge" tv series, kelamnya dan twistednya.
Beauty shot-nya benar-benar cantik. Pemotongan gambarnya pun enak. Adegan-adegan disusun dan di ambil dengan hati-hati, benar-benar membuat penonton terhanyut dalam sendu, pedih, takut serta kekhawatiran para karakter. Tanpa dialog, scene-nya sudah bernyawa. Keren.

Overall 
Mini seri ini agak shocking sih buat saya, in a good way. Kalau di kasih skor mungkin 9/10 karena temanya yang women empowering serta cast-nya yang keren abis. Saya nggak yakin dengan script yang demikian akan bisa di deliver sedemikian rapih kalau bukan oleh aktor and aktris sekelas mereka. This is just brilliant.

Monday, January 16, 2017

Black Mirror

 Black Mirror


Serial satu ini direkomendasikan seorang teman, adik kelas di kampus, a fellow blogger Coklat dan Hujan. Nggak ada ekspektasi apa pas nonton karena memang nggak dikasih spoiler. Actually, awalnya dititipin download aja sama dia, terus pas ditanya serialnya gimana, dia jawab 'rame'. Well, berhubung sedang butuh tontonan lain yang agak beda, jadi memutuskan untuk nonton. Hasilnya? Waaayyy too real to the point of scaring. Bukan, ini bukan horor kok.
Black Mirror is an exaggerated version of modern life. Hence the title Black - Mirror (cermin hitam). It depict our everyday life so perfectly...in a way. Mencoba untuk memunculkan ke-semu-an kehidupan modern, termasuk dengan kemajuan teknologinya. Buat saya kontennya more graphic than porn, so to speak. No, its no porn. Serial ini sarat makna kalau kita bisa membandingkannya dengan kehidupan sekarang. Untuk kalian yang nggak suka film yang kebanyakan percakapan dan bikin mikir, you might want to skip this.

Storyline and Plot
Perlu diketahui Black Mirror memiliki cerita dan karakter yang berbeda pada setiap episodenya. Meski begitu, semuanya memiliki benang merah yang sama yaitu Mirroring atau mencerminkan kehidupan masa kini. Membahas kesemuan hidup karena perkembangan teknologi. Mengupas hal-hal yang terkesampingkan atau malah menjadi masalah saking canggihnya teknologi. Seperti sosial media, cloud storage, online gaming, dst. Black Mirror menghadirkan sebuah cerita yang menyentuh salah satu tema pada setiap episodenya. Mulai dari politik, industri hiburan hingga kehidupan pribadi.
Musim tayang pertama bertema politik, industri hiburan, dan hubungan pernikahan. Masing-masing satu episode.
Di episode pertama bercerita tentang ancaman pada Perdana Menteri Inggris. Si pelaku menculik putri kerajaan sebagai alat untuk memaksa Perdana Menteri melakukan keinginannya. Permintaan penculik ini begitu mencengangkan dan membuat geger seluruh dunia. Pihak pemerintahan Inggris berusaha menutup rapat kasus ini tetapi, sang penculik mengunggah video ancamannya di sosial media yang bisa diakses bebas dan dalam hitungan menit saja, sudah menyebar ke se-antero kerajaan. Singkat cerita, si Perdana Menteri dengan berat hati melakukan permintaan si pelaku demi kebebasan sang Putri yang begitu dipuja rakyatnya. Tak lama sang Putri pun terlihat di tempat keramaian. Sementara kemudian, si pelaku ditemukan menggantung dirinya.
Episode pertama ini menggambarkan betapa kuatnya pengaruh media sosial. Sosok perdana menteri dan kekuatan kerajaanpun tak sanggup membendung penyebaran berita. Diluar itu, detail bagaimana pihak pemerintahan mencoba memanipulasi media untuk mencegah penyebaran serta bagaimana media 'melakukan apapun' demi 'kesegaran' dan 'keterbaruan' berita mereka menjadi cermin atau bahkan pencerminan untuk kehidupan masyarakat masa kini. Tak lupa dengan reaksi masyarakat sendiri, pro-kontra sudah sewajarnya. Itulah yang menggiring Perdana Menteri mengambil sikap atau mungkin sebaliknya hehehe, who knows.

Spoilernya segitu aja ya, selebihnya nonton sendiri. Saat ini sedang menginjak musim ke-4. No worries, satu musim tayang hanya 3-4 episode saja dengan durasi masing-masing episode hanya 40-50 menit. Its less than Sherlock, way less but its good. So, check it please. Black Mirror bisa menjadi semacam eye opener. Terlepas dari benar atau nggaknya, toh ini cuma film hehehe. Banyak hal yang bisa dipetik. Bagaimana memposisikan diri kita dalam masyarakat, how to handle a social media (our own post or others). Yang paling penting adalah, people remember, good or bad is relative. Society has its own moral code, to follow or not to is a choice we have to make everyday to determine our place. Do you want this world to be a better place or simple a peaceful one? Pertanyaan yang filosofis, sangat mendasar bukan? Di tengah hiruk pikuk kehidupan dan perkembangan teknologi, kira-kira pertanyaan itu yang ingin di jawab dengan Black Mirror. Buat saya 9/10 nilainya.



Season 1
Season 2 + White Christmast Edition
Season 3

pass if needed : BlackMirrorbyTante_Inez


Monday, December 26, 2016

My Wife's Having An Affair This Week Review

My Wife's Having An Affair



Drama dari Korea Selatan ini berkisah tentang Affair, sesuai judulnya. Ya, benar. Perselingkuhan jadi tema utama. Pengemasannya cukup menarik karena dibalut komedi segar tanpa melepas sisi dramatisnya. Kita langsung bahas aja.

Synopsis
Do Hyun-Woo adalah seorang produser yang sudah menikah 10 tahun. Istrinya Jung Soo-Yeo, adalah seorang ibu bekerja. Mereka memiliki satu orang anak bernama Do Joon-So. Suatu hari Hyun-Woo mempertanyakan kesempurnaan istrinya, adakah wanita yang begitu sempurna tanpa cela? Ibu bekerja dengan rumah yang tertata rapi, pandai memasak, melayani suami dengan baik dan santun pada mertua. Ia pun merasa ada yang tidak beres dibalik kesempurnaan itu hingga mencurigai adanya pria idaman lain. Ia mencoba menampik pemikirannya itu tetapi bukti-bukti bermunculan dan semakin memperkuat kecurigaannya. Tak tahu harus bicara dengan siapa, ia pun curhat di sebuah forum dunia maya dengan menutupi identitasnya. Dari forum tersebut ia mendapatkan banyak saran termasuk cacian dan makian. Berdasarkan saran dari para user forum, Hyun-Woo ingin memastikan kecurigaannya dan melakukan berbagai hal. Dan memang terbukti, sang istri selingkuh.

Selain Hyun-Woo, Choi Yoon-Ki pria mata keranjang yang juga teman Hyun-Woo juga pelaku perselingkuhan. Hyun-Woo mendapatkan informasi "ciri-ciri selingkuh" dari apa yang dilakukan Yoon-Ki pada istrinya. Bagaimana dia mengatur waktu bertemu dengan teman wanitanya, hingga berani selingkuh di depan mata sang istri, Eun A-Ra. A-Ra mencoba menutup mata dan bersabar menjalani pernikahan dengan si hidung belang hingga suatu hari A-Ra tak tahan lagi dan membalas dendam pada Yoon-Ki kemudian mencampakkannya.

Lain lagi dengan kisah Ahn Joon-Young dan Kwon Bo-Young. Keduanya rekan kerja yang tersandung masalah pernikahan. Bo-Young adalah penulis skenario yang bercerai setelah beberapa hari menikah. Sementara Joon-Young tampak berada dalam pernikahan bahagia dengan istri yang sempurna. Ternyata, kisah Joon-Young lebih kelam lagi. Keduanya tak ingin terlibat 'affair' dengan satu sama lain, tetapi apa daya kalau hati berkehendak lain. Apakah mereka benar-benar melakukan 'affair'?

Review
Plot
Grand plot drama ini adalah relationship. Problematika hubungan yang terkait pernikahan. Komposisi drama dan komedinya bisa dibilang bagus. Sehingga drama ini tidak terlalu membosankan. Beberapa hal yang dramatis malah dibalut dengan komedi, jadinya terasa segar tanpa kehilangan esensi dramanya. Hal ini juga membuat scene tertentu menjadi begitu menyentuh, membuat saya berurai air mata. Kepolosan anak pada Joon-So, serta kesabaran A-Ra begitu mengena di hati.
Twist yang disajikan juga cukup mengejutkan. Drama ini berhasil membuat sosok sempurna Soo-Yeo menjadi antagonis. Di tambah dengan plot yang campuran (maju-mundur) serta sinematografi yang apik melengkapi semuanya. Mungkin di episode awal agak kurang hooked atau tertarik dan terasa membosankan, well...bear with it, episode berikutnya will get you hooked.
Akan tetapi, buat saya endingnya anti-klimaks. Setelah emosi dibawa turun naik, endingnya agak kurang nendang. Is it a happy ending? Bisa ya, bisa juga tidak tergantung sudut pandangnya. I think it would be better to end it with a kiss or  a hug.

Cast and Character
Bicara tentang cast, rasanya sudah tepat. Para aktor memainkan perannya dengan baik. Karena tokoh utamanya adalah Hyun woo, Lee Sun-Kyun benar-benar berhasil menggambarkan suami menderita yang putus asa tapi juga penyayang dan bertanggung jawab. Kita sungguh dapat merasakan frustrasi yang dialaminya, merasakan kekesalannya dan memahami perilaku-perilaku bodohnya dan kesal karenanya.
Entah dengan penonton yang lain, tapi yang menarik dan bintang buat saya di drama ini adalah Soo-Yeo yang diperankan oleh Song Ji-Hyo. Akting Ji-Hyo begitu luar biasa hingga saya begitu membenci dan kesal pada Soo-Yeo meskipun dia sosok yang sempurna. Bahkan di saat-saat Soo-Yeo dalam kesulitan atau menderita, saya tetap kesal padanya. Sampai endingpun kekesalan itu masih ada meski sudah berkurang. Soo-Yeo termasuk salah satu tokoh utama tapi frekuensi kemunculannya jauh di bawah Hyun-Woo. Kebayang, kan? Dengan frekuensi yang tidak terlalu sering muncul tapi kesannya sangat kuat. Keren banget!
Bicara tentang karakter, favorit saya adalah Kwon Bo-Young yang diperankan oleh BoA. Bo-Young memiliki karakter yang kuat, keras kepala, tegar tapi juga penyayang. Bo-Young ini cukup menginspirasi, karakter yang woman-empowering pokoknya.

Overall 
Saya ini bukan penggila kdrama apalagi kpop dan bisa dibilang cukup selektif akan drama-drama yang saya tonton. Secara keseluruhan saya suka drama ini dan would definitely watch it again. Nilainya 8/10 deh. Nilainya nggak sempurna karena endingnya dan konten dramanya yang agak kurang. Yes, di beberapa bagian ada scene yang kurang dramatis jad kurang gereget. Tapi mungkin sengaja dibuat begitu biar hal-hal sederhana bisa terasa lebih manis. Ini hanya masalah selera aja sih. Untuk segi cerita dan tontonan, buat saya very enjoyable. Nonton drama ini membuat kita lebih peka dan menghargai hal-hal sederhana serta pay attention to it.

Monday, December 12, 2016

Westworld

Westworld


Westworld adalah serial yang lengkap buat saya. Temanya fiksi ilmiah umm lebih tepatnya sih sci-fi-psy, fiksi ilmiah psikologi karena bicara tentang eksistensialisme dan krisis identitas. Berseting di era modern, Westworld merupakan sebuah dunia fantasi atau taman rekreasi. Sebuah dunia yang diciptakan bagi mereka yang ingin bermain peran, menjadi orang lain. Sesuai dengan namanya west-world atau dunia bagian barat, set dari dunia fantasi ini bertema western-comboy. Di dalamnya, para pengunjung bebas melakukan apapun tanpa perlu takut mati. Hal ini dikarenakan para pemeran di dalamnya, yang di sebut Host, sudah di set sedemikian rupa untuk tidak menyakiti pengunjung. Selebihnya, Westworld is as real as the world it is.

Synopsis
Westworld adalah sebuah dunia dalam dunia. Dibalik berjalannya dunia fantasi tersebut, ratusan orang bekerja untuk mengelolanya. Memonitor gerakan setiap host, 'membersihkan' dunia tersebut dari segala hal yang dilakukan oleh para pengunjung. Menghapus ingatan para host dan mengembalikan kondisi dunianya ke setting awal. Setiap harinya, puluhan host mati lalu dihidupkan kembali dengan jasad barunya. Ingatan mereka dihapus, kepribadian mereka di sesuaikan untuk kepentingan pengunjung. Setelah itu mereka di kembalikan ke Westworld untuk mengulang hari mereka dengan rutinitas yang sama. Maeve dan Clementine misalnya, yang siap menghibur para pengunjung di rumah bordir tempat mereka bekerja.
Sudah 35 tahun Westworld berjalan. Jumlah Host-pun ditambah seiring dengan perkembangan 'script' yang ditawarkan pada pengunjung. Dari sekian banyak, beberapa Host generasi pertama masih digunakan. Dolores dan Teddy misalnya. Keduanya memiliki pola tertentu saat berinteraksi. Kadang mereka berada di satu 'script' yang sama, kadang tidak. Tapi entah kenapa mereka selalu bertemu pada akhirnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, para Host harus disesuaikan atau diprogram ulang agar mereka tetap pada jalurnya, mengikuti script yang sudah dibuat. Secara berkala para Host di cek jika ada hal-hal ganjil diluar rutinitas mereka terjadi. Tidak jarang, kepribadian mereka dirubah untuk mengisi karakter baru dalam sebuah script yang dibuat tim Westworld.
Salah seorang pengunjung menjadi begitu terobsesi dengan Westworld, dan menjadi pelanggan setia Westworld selama 30 tahun terakhir. Hampir semua karakter ia kenali, semua script juga sudah dia jalani kecuali satu. Sebuah script 'pencarian' akan sesuatu yang di sebut "The Maze". Tak ada yang tahu tentang The Maze, hingga ia harus berulang kali datang dan menyiksa para Host untuk mendapatkan petunjuk. Dolores menjadi salah satunya. Dia percaya, bahwa Dolores adalah kuncinya. Di akhir pencariannya, muncul sebuah nama, Arnold. Arnold sendiri merupakan salah satu kreator dari Westworld yang sudah meninggal. Apakah benar Arnold sudah meninggal? 


Review
Plot
Dua hal yang harus di pahami dari serial ini adalah, bahwa semuanya terkait dan setiap detail adalah penting. Dengan itu, kita akan lebih jeli dan mudah menangkap maksud ceritanya. Saya butuh beberapa lama untuk akhirnya menonton dengan sungguh-sungguh. Dan seiring episode berjalan, semuanya semakin pelik. Alur waktunya di buat berlapis-lapis seperti Inception. Kalau kurang jeli, pasti bingung dengan urutan waktunya.
Dolores memang menjadi kunci serial ini, but even then...when we thought we knew...we're just being duped again hahaha. Keterkaitan Dolores dan Teddy bukan sekedar red-knot alias cinta, begitu juga dengan dr.Frost rekan Arnold dan Bernard (asisten dr.Frost).
Selain alur yang berlapis, eksistensialisme juga menambah kepelikan ceritanya. Kita akan dibingungkan dengan timeline serta mempertanyakan mana yang nyata, mana yang tidak. Mana yang benar terjadi, mana yang di rekayasa. Seriously, it just mindfuck. Ketika satu persatu Host generasi pertama mengingat repihan-repihan episode kelam yang mereka jalani. Ketika mereka menjadi buruan pelanggan, korban pembunuhan dan sebagainya. Kita akan digiring untuk penasaran, 'apakah para Host ini akan menyadari bahwa mereka hanya boneka?'
Beberapa cabang cerita akan terlihat klise, terutama Teddy-Dolores-William. Its gonna look that its a love triangle. Well..its not exactly like that actually, so you'll forgive the cliche in the end.
As cliche as it is, for me, the best part is the ending. Its concluded. No need for second season.

Character
We all will fall to Dolores, so was I, karena Dolores menjadi jembatan dari cabang-cabang alur yang ada.  Dia menjadi trigger penonton untuk memanusiakan para Host. Diapula yang menjadi bom kejutan untuk serial ini. Selain Dolores, ada Maeve si Host yang membuat kekacauan di ruang kendali Westworld. Maeve begitu kuat hingga bisa memanipulasi ilmuwan yang menanganinya, but in the end all is always according to dr.Robert Frost.
Frost diperankan oleh Anthony Hopkins, so expect greatness from him hehe. Sosoknya yang tenang, selalu menyimpan kekuatan tak terduga di baliknya and indeed he is. Sepanjang nonton, sosok Frost berubah-rubah buat saya. Maksudnya berubah, kadang masuk protagonis kadang masuk antagonis. To my surprise now, semua karakter tidak ada yang benar-benar antagonis atau protagonis..umm..maybe except Teddy.

Overall, what can i say about this series...umm... mindfuck. Thats the word. And..I'll give a 9/10. Selamat menonton.

Monday, November 28, 2016

The Great Wall Review

The Great Wall



Film ini di sutradarai oleh Zang Yimou, familiar? Ya, beliau adalah sutradara untuk film House of Flying Dagger juga Curse of Golden Flower serta sederetan film lainnya. Saat memilih untuk nonton film ini, saya nggak berespektasi apapun. Pemilihanpun hanya berdasarkan "Oh, ada Matt Damon-nya." lalu saat melihat posternya ada Andy Lau di sana. "Hmm..interesting." Begitu kebesaran Great Wall di tampakan serta serangan awal terjadi, benak saya langsung melayang ke Battle of Helm's Deep di The Lord Of The Rings : Two Towers. Melihat kesigapan pasukan Great Wall, saya langsung teringat pasukan Elves yang dipimpin Haldir. Man, sudah 14 tahun yang lalu loh film itu dan baru kali ini menemukan film dengan sensasi yang sama. Kalau kalian ada rekomendasi film sejenis, komen aja di bawah nanti saya tonton.

Storyline Preview
Berawal dari perburuan "Black Powder" atau mesiu yang dilakukan William (Matt Damon) , kita diantarkan untuk masuk ke dalam The Great Wall, Tembok Besar Cina. William terjebak di antara tembok besar dan bangsa liar yang memburunya selama beberapa hari. Iapun memilih untuk menyerahkan diri pada pasukan tembok besar yang disebut The Nameless Order daripada mati konyol di tangan bangsa liar. 
The Nameless Order tertarik pada William ketika menemukan potongan tangan monster yang berhasil dikalahkan William sebelumnya. Monster yang dikenal dengan sebutan Tao Tei oleh bangsa Cina. Setiap 60 tahun sekali, Tao Tei akan menyerang bagian utara cina tapi bagaimana mengalahkannya selalu menjadi misteri. Setiap kali menyerang, jumlahnya semakin banyak dan mereka semakin cerdas. Kali ini, jika mereka tak berhasil menghadang serangan Tao Tei maka seluruh Cina daratan akan habis. 
William yang berprofesi sebagai mercenaries alias orang bayaran, dilanda kegalauan. Di satu sisi dia punya misi untuk membawa Black Powder kembali ke Eropa, tapi di sisi lain dia akhirnya menemukan tujuan hidupnya. Selama ini dia bertarung untuk uang, di Great Wall dia menemukan alasan yang lebih mulia, mempertahankan kelangsungan hidup banyak orang. Ketika Tovar (rekan William) bersiap untuk meninggalkan Great Wall dalam kehancuran dengan membawa Black Powder, William-pun harus memilih. Ikut dengan Tovar atau berperang melawan Tao Tei.

Plot
The Great Wall berkisah tentang kebesaran Tembok Besar Cina yang membentang lebih dari 1000km melingkupi Cina daratan. Narasi di awal film menjadi pengantar mindset penonton dan mulai membuat mengira-ngira jalan ceritanya. Film ini mengupas tentang epic battle yang terjadi di tembok ini. Seperti dalam narasi, "Some of the battle are great, but this is the legendary one." kira-kira begitu. Saya selalu tertarik dengan tema-teman yang demikian, good vs evil in the name of surviving. Persis seperti misi menghancurkan Sauron dalam Trilogi The Lord Of The Rings.
Filosofi kehadiran Tao Tei-pun menjadikan pertempuran di Great Wall menjadi lebih epic. Ini karena Tao Tei bukan sekedar monster. Menurut legendanya, Tao Tei adalah manifestasi dari keserakahan manusia. Jadi, pada zaman dahulu kala ketika Cina daratan dipenuhi manusia-manusia serakah dan kehidupan menjadi kacau balau, Tao Tei dikirimkan oleh Dewa untuk memusnahkan manusia. Setiap 60 tahun sekali, Tao Tei akan menyerang sebagai bentuk pengingat agar manusia tidak mengulang kesalahan yang sama. Alasan ini menjadikan perang melawan Tao Tei lebih mulia dari sekedar perang membasmi monster. The higher purpose-nya ada.
Plotnya memang sederhana dan terbaca. Tidak ada twist yang mencengangkan, apalagi cliffhanger ending. Akan tetapi dengan adanya Higher Purpose serta dikemas dalam sinematografi yang ciamik, Great Wall ini pantas untuk ditonton. 

Karakter dan Sinematografi
Saya jatuh cinta dengan kesederhanaan film ini. Siapa sangka, tanpa cerita berat dan pelik bahkan plot yang bak kacang goreng, Great Wall masih bisa dinikmati. Setiap pemeran mendapatkan porsi yang seimbang menurut saya. Setiap cast juga memerankan perannya dengan baik. Tidak ada karakter yang menonjol atau unik, all typical. No romance here, maybe a little hint but i'm glad Yimou didn't go there.
Graphic-nya bagus, terbilang realistis lah. Sudut yang diambil juga cantik. Gerakan-gerakan saat battle-pun diambil dengan rapi. Beberapa film sejenis terutama selalu mengedepankan bela diri khas negeri tirai bambu, tapi kali ini tidak. I'm amazed. 
Hal lain yang membuat saya jatuh cinta adalah costume design-nya. Ahh... can i have one? 

Overall, The Great Wall is very worth to watch. I give 8/10, because it reminded me so much of "Battle of Helm's Deep".

Monday, November 21, 2016

The Royals




Serial ini sedang menginjak musim ketiga-nya. Kabarnya memang akan berakhir di season ini. Saya sendiri baru nonton sampe season 2. Rasanya sayang jika berakhir di season 3 hehehe terlebih karena scene terakhir di season 2. Berharap 'ternyata' King Simon memalsukan kematiannya atau Robert selamat dari kecelakaan. Untuk ukuran 10 episode tiap musimnya, rasanya terlalu cepat untuk mengakhiri perjuangan keluarga Henstridge untuk tetap memegang tahta Inggris di season 3.

Synopsis
Sesuai dengan judulnya, serial ini berkisah seputar para Royals, yakni para keluarga kerajaan di Inggris. Dinasti yang sedang berkuasa adalah dari keluarga Henstridge. Helena si Ratu dan Simon si Raja beserta anak-anak mereka, si kembar Liam dan Eleanor serta si sulung Robert. Kisah dibuka dengan tragedi yang menimpa Henstridge. Di tengah hidup glamor Eleanor dan Liam, Robert sang pewaris tahta di ketahui meninggal dalam kecelakaan. Robert mengikuti jejak Simon yang aktif di bidang Militer, mengalami kecelakaan saat mengendarai helikopternya.
Seluruh Inggris berduka, termasuk keluarga kerjaaan. Paling tidak itulah yang ditampakkan the Henstridge pada media.  Kematian Robert justru menjadi celah suksesi pewaris kerajaan setelah Raja Simon. Kredibilitas Liam yang playboy dan hedonis di pertanyakan. Liam tidak pernah dipersiapkan menjadi pewaris karena posisi Robert sebagai anak sulung. Sementara itu, Simon si Raja yang berduka berpikir untuk membubarkan kerajaan, meniadakan monarki karena komplikasi sebagai keluarga kerajaan dilihatnya sebagai penyebab ketidakharmonisan Henstridge, yang kini diambang kehancuran karena kematian Robert.
Dengan rencana dihapuskannya Monarki dari tatanan kenegaraan Inggris Raya, banyak pihak merasa dirugikan, terutama anggota kerjaan lain dan para abdinya. Dengan pembubaran keluarga kerajaan, berarti perlakukan khusus atas mereka akan ditiadakan. Cyrus, adik Simon menjadi yang paling frontal diikuti oleh Helena sang Ratu.

Plot
Alur cerita The Royals terbilang cepat sehingga membuat serial ini tidak masuk kategori drama berat. Konflik antar golongan serta scheme tipu menipu menjadi daya tarik tersendiri. Kalau di dibandingankan, mungkin mirip dengan Gossip Girl. Tidak seliar itu juga sih tapi bagian kelicikan dan scheme-nya serupa-lah. Its kinda refreshing really, ringan sekali.
Perebutan tahta menjadi fokus utama, berikut misteri kematian yang menimpa anggota keluarga Henstridge satu per satu, hingga skandal perselingkuhan Helena yang menggagalkan Liam sebagai pengganti Robert.
Melalui serial ini, kita diajak mengintip kondisi di dalam istana kerajaan. Bagaimana kehidupan mereka, apa yang mereka alami dan beban mereka sebagai Royals. Everything they do, they must do it with grace.

Karakter
I fell in love with Queen Helena, being played by Elizabeth Hurley. Liz dengan baik menampilkan potret seorang ratu-muda di masa modern. We can see how torn is the Queen. Di satu sisi harus menunjukkan powernya bahwa Henstridge masih berkuasa, menjaga agar anak-anaknya menjadi pewaris tapi di sisi lain dibenci oleh anak-anaknya sendiri.
Hampir semua karakter di The Royals tidak memiliki batasan yang jelas antara baik dan buruk. Everyone had flaw, even the sweet Prince Liam. Inilah yang membuat serial ini menjadi hidup. Karakter-karakter ini menjadi wildcardnya. Beberapa karakter pendukung memang terlihat too much and too dull. But the main character is good.

Kesimpulannya serial ini pas untuk selingan diantara serial berat macam Game of Thrones atau gelora asmara di Kdrama. Jumlah episode yang tidak terlalu banyak serta alur cerita yang cepat, membuat kita selesai menonton sebelum bosan melanda. Settin cerita yang unsual, yakni modern monarchy juga menjadi daya tarik tersendiri. Kalau di konversi dalam poin, 6/10.

Season 1
Season 2
pass : kbagi-by-tante-inez/subtitle-by-tante-inez

Monday, November 14, 2016

Black Sails : Piracy at its best

BLACK SAILS



Black Sails bertemakan bajak laut. Untuk kalian yang suka nonton Pirates of The Carribean mungkin akan suka. Serial ini menyasar kalangan dewasa karena konten nudity dan gore yang lumayan. Kesan pertama nonton adalah "dirty". Maksudnya memang karena settingnya di abad 18 juga tentang bajak laut, kata 'kotor' ini diterapkan untuk semua hal. Secara literal memang kotor alias caludih kalau bahasa sundanya. Selebihnya ya diterjemahkan sendiri sesuai konten dewasa yang ada. Serial ini diperuntukkan bagi penonton dewasa, terutama yang nggak keberatan dengan ragam sexual orientation. Paham kan ya? Terlepas dari skin eksposure dan fan service-nya, Black Sails punya cerita yang kuat bersumber dari dendam kesumat dan mimpi rakyat jelata untuk hidup lebih baik.

STORY
Adalah Captain Flint yang jadi sentral cerita. Tentang sepak terjangnya sebagai kapten bajak laut yang paling disegani rekannya dan paling ditakuti para pedagang. Ia bekerja sama dengan Eleanor Guthrie untuk mengelola sebuah pulau sarang perompak di kawasan karibia bernama Nassay. Tokoh antagonisnya adalah Kapten Charles Vane beserta orang kepercayaannya Rackham dan Anne. Tim Vane bersaing dengan Tim Flint dalam hal mendulang kesuksesan di lautan sekaligus aliansi dengan Eleanor. Tak ada yang tahu bahwa reputasi dan kejayaan Flint bukan semata untuk materi, Miranda Barlow menjadi bagian dari sejarah kelam Flint. Flint sendiri adalah seorang Admiral (kapten kapal) sebelum akhirnya tenggelam dalam dunia bajak laut. Dia bersama Miranda datang ke pulau tersebut dengan sebuah misi. Setelah sekian lamanya, Miranda menganggap misinya hanyalah mimpi sementara Flint masih terus mengejar. Flint masih belum menemukan yang dia cari.
Pencarian harta karun terbesar, perburuan kapal dagang spanyol, konflik diantara anak buah kapal hingga intrik politik mewarnai cerita Black Sails.

PLOT
Fokus Black Sails adalah pada cerita tentang Capt. Flint. Bagaimana dia berusaha mengembalikan nama baiknya beserta someone specialnya dan Miranda Barlow. Beberapa twist tak terduga dan cliffhanger di akhir season menjadi daya tarik tersendiri. Perkembangan ceritanya bisa dibilang lambat mm... mungkin lebih tepatnya penonton kadang yang telat menyadari hingga jadinya bingung sendiri. Aha moment hampir selalu terjadi di last minute dan dengan cepat ceritanya berputar. Di serial ini buat saya terlalu banyak 'almost moment' atau plot yang 'nyaris' sehingga kadang bikin kesel dan capek nontonnya. At some point you just got bored and stop watching or simply skipping most part. What keeps me going adalah balas dendam flint kepada kerajaan Inggris terlebih setelah tragedi Miranda Barlow. Itu satu. Kedua adalah nasib Eleanor Guthrie untuk kembali memegang kendali Nassau dengan memanfaatkan Armada Laut Inggris yang menangkapnya. The rest is just...

Karakter
Favorit saya sebenarnya Miranda Barlow tapi sayang nasibnya kurang bagus sehingga beralih ke Eleanor. Miranda adalah wanita cerdas dan kuat, miriplah dengan Eleanor. Bisa dibilang kalo Miranda ini versi dewasa dari Eleanor hehehe... Louise Barnes sebagai Miranda dan Hannah New sebagai Eleanor memerankan dengan karakter tersebut dengan pas.
Ada satu karakter yang jadi wildcard di sini, Max namanya. Max diperankan oleh Jessica Parker Kennedy. Max berubah haluan dari seorang protagonis menjadi antagonis di mata saya. Bisa dibilang, kekacauan rencana Flint dan stabilitas Nassau adalah akibat ulahnya hahaha. Keren.

Overall
Serial ini menarik buat saya karena memang saya fans-nya Pirates Of Carribean. Ketika PoC bergelut dengan mitos mistis, Black Sails lebih realistis. Konflik perburuan harta karun, kapal dagang dan dendam kesumat membuat BS menjadi easy to relate. Hal yang menjadi BS nggak jadi favorit adalah ke 'dirty'-annya baik secara harfiah ataupun perumpamaan hehehe. Too much skin and dirt..just...too much. Well, itulah pendapat saya tentang Black Sails. I'm not a critics, just a person that happens to like watching.


Filmnya Disini

Monday, November 7, 2016

This Is Us

THIS IS US



This is Us...satu kata yang menerangkan serial ini adalah "beautiful". Pilot episode-nya langsung bikin penonton "hooked" dan jatuh cinta, ya jatuh cinta. Dari sekian puluh serial dan film yang pernah saya tonton, ini salah satu yang bikin saja jatuh cinta di episode pertama. Sebuah tontonan tentang keluarga yang rasanya manis dan hangat. Berkisah tentang empat manusia yang berbagi tanggal lahir yang sama. Serial ini baru tayang beberapa episode saja, jadi belum tahu juga apakah akan jadi long series atau short-lived one. Dengan tema drama keluarga yang cukup serius, agak susah juga sih 'sepertinya' untuk bisa bertahan. Semoga cast-nya bisa 'ngangkat' rating hehehe...

Story
Adalah Jack, Randall, Kate dan Kevin yang berbagi tanggal lahir yang sama. Di ulang tahunnya yang ke-30, Jack tengah menantikan kehadiran anak-anaknya yang kembar 3. Ia dan istrinya Rebecca tengah mengalami kemelut kelahiran, dimana memang melahirkan anak kembar beresiko tinggi. Lain lagi dengan Randall yang tengah dilanda konflik ketika ayahnya yang tak pernah dia kenal, kembali muncul dalam hidupnya. Sementara itu di hari yang sama, Kevin sang aktor agak terkenal berkontemplasi tentang hidupnya yang mengantarkannya untuk keluar dari dunia keartisan televisi. Kate, untuk kesekian puluh kalinya menyerah pada godaan setelah berusaha untuk menurunkan berat badan sepanjang hidupnya.
Kehangatan diantara Jack dan Rebecca (istrinya) dan kemelut yang dihadapi oleh masing-masing karakter mengingatkan kita bahwa keluarga (bagaimanapun anehnya) akan dan seharusnya menjadi tempat nyaman (comfort zone). Serial ini berkisah tentang bagaimana sebuah keluarga tetap bertahan, mencoba utuh selama melewati fase-fase hidup.
Hampir di setiap episode-nya kita selalu menemukan twist yang mengejutkan. Jujur aja di episode pertama saya baru 'ngeh' dan bisa menghubungkan setiap cerita menjelang episode berakhir. Tepatnya saat Jack bercakap dengan seorang polisi di depan ruang bayi yang baru lahir. Dem feels lah pokoknya.


Karakter
Bisa dibilang serial ini 'bertabur bintang'. Jack diperankan oleh Milo Ventimiglia (Gilmore Girls, Heroes) sementara Rebecca diperankan oleh Mandy Moore. Lalu ada Kevin yang diperankan oleh Justin Hartley  (Smallville, Revenge, Mistresses).
Dari semua karakter, yang menarik buat saya Jack dan Rebecca. Sejak awal episode, karakternya sudah hidup dan alurnyapun jelas. Meski begitu karakter lainpun berkembang setiap episodenya. Milo sebagai Jack dan Mandy sebagai Rebecca begitu klop, chemistry diantara mereka juga pas. Lalu kehangatan diantara merekapun pecah ketika negara api menyerang....(sigh). Sementara itu karakter Kevin dieksekusi dengan baik oleh Justin. Entah ya, aku sih merasa Kevin ini seperti bentuk proyeksi/curhatan dari kebanyakan aktor middle-class dan Justin jadi perfect fit. Paras ganteng, akting hebat tapi somehow stuck dengan middle-class role. Kita sebagai penoton bisa dengan mudah relate dengan Kevin dan juga Kate. Yup, semua perempuan pasti bisa relate dengan Kate. Perempuan mana yang nggak battling with diet?? hehehe...i mean most girls are.

Overall, karena serial ini masih baru jadi belom tau juga nasibnya apakah akan bisa panjang atau hanya berlangsung beberapa episode saja. Buat saya sih mereka punya banyak potensi untuk jadi drama bagus. Great cast, briliant plot twist, potensi twist dan konflik yang terbuka lebar, serta karakter yang masih sangat berkembang. Saya justru khawatir dengan temanya yang cenderung 'drama berat' akan jadi sandungan, karena ada beberapa momen yang memang membuat serial ini jadi membosankan dan monoton. Well, i'm not a critics. Ini hanya pendapat saya tentang serial ini sesuai dengan preferensi saya sebagai tukang nonton. Nggak ada salahnya coba dulu nonton 1-3 episode, kalo too much ya tinggalkan saja, as simple as that hehehe... Selamat menonton viewers.

Monday, October 10, 2016

UnReal : My New Favorite TV Series

UnReal TV Series



Review berikut adalah my new favorite tv show tentang kegiatan behind the scene sebuah program televisi berjudul "Everlasting". Serial ini menjadi favorit terbaru saya setelah kehilangan hasrat menonton The Vampire Diaries setelah ditinggal Nina Dobrev. Kenapa jadi favorit? Karena serial ini mengingatkan saya akan satu masa dalam hidup *uhuk*. UnReal adalah pengembangan dari sebuah film pendek berjudul Sequin Raze yang disutradari oleh Sarah Gertrude Shapiro. Sebuah film pendek yang menyingkap dan menampilkan ugly truth dari sebuah program televisi, a reality show. Serial ini tayang perdana tanggal 1 Juni 2015 di stasiun TV Lifetime. Sekarang, musing tayang keduanya baru saja berakhir. Well, mari kita bahas. Scroll ke bawah aja untuk link Sequin Raze.


Story
UnReal mengisahkan lika liku sebuah program televisi berbentuk reality show pencarian jodoh berjudul "Everlasting". Rachel adalah seorang produser yang kembali lagi menjadi tim produksi Everlasting. Kehadiranya menghadirkan angin segar sekaliagus ketakutan bagi kru. Kemampuan Rachel sebagai produser sudah tidak perlu dipertanyakan, tetapi peristiwa di musim tayang Everlasting sebelumnya membuat kru ragu akan kemampuan Rachel untuk mengendalikan dirinya. Ya, Rachel mengalami metldown atau emotional breakdown di season sebelumnya. Nurani dan hatinya meledak tak tahan menanggun akumulasi beban dan konflik yang ia hadapi sebagai kru tim produksi. Peran yang menguras emosi dan memaksanya untuk menutup mata serta mengesampingkan nuraninya demi rating programnya.
Serial ini mengupas pribadi para kru yang terlibat, termasuk para kontestan reality show. Bagaimana sikap mereka ketika dihadapkan pada kenyataan akan proses sebuah produksi program televisi yang tak seindah di layar kaca. Bahwa apa yang ada di layar kaca bisa jadi sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di set. Dialog-dialog diputarbalikkan, dipotong dan disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan tayangan yang disukai penonton, menghibur penonton. Semua yang terlibat di balik layar akan berusaha melakukan apapun demi suksesnya (baca: tingginya rating) program tersebut. Batas-batas moral melebar begitu tipisnya hingga seolah tak ada lagi batasnya.

REVIEW
Plot
Sejak awal tayangan, kita sudah di bawa masuk ke dunia produksi televisi. Bagaimana sikap kru di belakang layar saat proses shooting. Bagaimana mereka berkomentar, menciptakan konflik hingga bertaruh akan kelangsungan nasib para kontestan. Pokoknya realita produksi televesi digambarkan dengan cerdas. Alurnya terbilang straightforward, dari episode pertama kita sudah disuguhkan scheme/trik manipulasi agar Everlasting 'seru dan penuh drama'. Nggak butuh lama untuk tenggelam dalam ceritanya. Fast paced, nggak banyak basa-basi. Intensitas emosi penonton langsung ditancap dengan dialog dan celetukan khas para kru.


Cast and Character
Rachel yang diperankan oleh Shiri Appleby. Satu-satunya cast yang pernah saya lihat sebelumnya dari serial TV Roswell dulu. Dia memainkan karakter Rachel dengan baik, sisi insecure, neurotik bisa kita lihat sejak awal. Karakter-karakter lain terdiferensiasi dengan sendirinya, briliantly played. Quinn sebagai Executive Produser bertangan dingin (diperankan oleh Constance Zimmer) juga menurut saya adalah bintang dari serial ini. It looks very natural, nggak dipaksakan. And believe me, that kind of person is real hahaha. Selain itu, ada Jeremy (diperankan oleh Josh Kelly) sebagai mantan kekasih Rachel yang juga seorang Cameraperson dan Adam Cromwell (diperankan Freddie Stroma) sebagai si 'Bachelor' peserta reality show. Those character become the center of season 1.

Overall, i got nothing to complain. Since i got to work in that kind of field, i'd say its quite real yet at some point a bit exaggerated. Anyway, you get to see beautiful cast. Pretty lady with nice dresses. And the Drama...oh that is just the key. There's always a bitter moment when the crew needed to 'create' a drama for the sake of TV Rating by breaking the reality show's participant. Its never easy to do such thing. And at sometimes it will take its toll, just like what happens to Rachel. So, this series is entertaining (and a little personal for me hehehe).

"Sequin Raze" a Short Movie
UnReal Season 1
UnReal Season 2 (proses upload)
password : subtitle-zen-by-tante-inez
please do check this page or subscribe for further update on other season link.

Monday, October 3, 2016

The Americans Series

The Americans : TV Series



THE AMERICANS adalah salah satu serial yang saya ikuti. Tema-nya tentang spy di masa perang dingin antara Amerika dengan Rusia. Jangan berharap melihat gadget canggih layakanya Bond atau Mission Impossible karena bisa dibilang genre-nya adalah drama.
Serial ini terinspirasi oleh buku yang di tulis oleh seorang mantan agen CIA-Amerika. Dia melihat betapa besarnya dampak 'operasi' pada para agen CIA dan kehidupan keluarganya. Everything is not the same anymore, kira-kira begitulah. Sang penulis sudah menyiapkan script untuk pilot episode jauh sebelum ide serial ini muncul. Anggaplah takdir, si penulis dipertemukan dengan produser dan jadilah serial ini.

Story
Menurut si penulis, The Americans adalah a story about marriage. Why is that?
Serial ini fokus pada dua orang mata-mata Rusia yang di tanam di Amerika. Cover mereka adalah sebagai sepasang suami istri, an Americans citizen with American dreams. (hence : The Americans title). Philip dan Elizabeth Jennings adalah nama samaran mereka, mereka memiliki dua orang anak, Henry si bungsu dan Pagie si sulung. Philip dan Elizabeth bekerja sebagai pemilik travel agent di siang hari dan malam hari sebagai mata-mata Rusia.
Stan Beeman adalah tetangga The Jennings, yang bekerja sebagai staf counter-intelligence untuk FBI. Philip dan Stan bertetangga dan berteman baik tanpa Stan tahu bahwa Philip adalah "the illegal" (sebutan untuk spy yang di tanam). Stan kemudian terlibat perselingkuhan dengan salah satu "Rezidentura" yakni sebutan untuk warga Rusia yang bekerja di kedutaan Rusia di Amerika bernama Nina. Di bawah ancaman Stan, Nina menjadi mata-mata Amerika meski akhirnya rodapun berputar dan Stan-lah yang menjadi mata-mata Rusia.

The Jennings, they're so deep in cover hingga mereka membentuk sebuah cover-family. At this point sudah saru manakah real life mereka? Apakah anak-anak mereka ini hanya cover atau benar-benar keluarga? Apakah pernikahan mereka ini sebatas cover atau benar-benar sebuah relationship? Konflik inilah yang di ramu dalam serial ini. Sebagai resiko pekerjaan (as spy not travel agent hehe) Philip dan Elizabeth diharuskan untuk menciptakan alias dan karakter baru yang nyata. Disinilah the web of lies terbentuk. Mereka harus berbohong pada semua orang, agar identitas mereka tidak diketahui. Will they survive the mission? Lalu bagaimana nasib Paige dan Henry?

Cast and Character
I'm amazed with Kerri Russel yang memerankan Elizabeth. Tatapannya, ekspresi wajahnya, gesture-nya semuanya pas memerankan sosok yang penuh kehati-hatian, yet vulnerable at the same time.
Karakter Paige menjadi favorit saya dan Holly Taylor mengeksekusinya dengan sempurna. Sebagai anak yang tumbuh menjadi remaja, mencari jati diri dan penuh rasa ingin tahu, Paige menjadi wildcard hampir di sepanjang musim tayang. Sikap, ide dan perilakunya yang unexpected seringkali membuat Philip dan Elizabeth kewalahan.

Overall
Serial ini sarat Drama, meski nggak se-pelik True Detective. Aksinya juga nggak terlalu banyak. Meski begitu disarankan untuk 18+ karena nudity content serta aksi gore-nya. If you're looking for a serious and short series, this will be good. And, if you like family conflict theme and the 80's you would love it. It keeps me going for another season every time i watch. Kadang memang terasa lamaaaa karena alurnya agak lambat, tapi nggak terasa udah jalan nonton season 3. Oya, serial ini sudah menginjak musim ke 4 tahun ini dan sedang proses produksi season 5. Kabarnya akan berakhir di season 6.

Season 1
Season 2 
Season 3
Season 4
pass:subtitle-zen-by-tante-inez
please do check this page or subscribe for further update on other season link.

I'm using LINKSHRINK.NET for the links, here for my referral.

Monday, September 26, 2016

You're The Worst : a Dark Comedy



You're the worst saya anggap sebagai sebuah dark comedy. Sebuah komedi satir tentang kaum dewasa muda yang all about freedom dan anti kemapanan. My life, my way. Padahal sebenarnya mereka semua adalah makhluk kesepian yang takut terluka. Serial ini terhitung pendek, hanya 13 episode untuk setiap seasonnya. Di tahun 2016 ini You're The Worst (YTW) menginjak musim tayang ke-3. Why do watch this show? Because sometimes it just slap you in the face. Dengan slapstick, sarcasm serta celotehan spontan yang kadang terkesan rude but real. I mean, it just ripped open your darkest thought. Mungkin istilahnya adalah Annoyingly True.

Serial ini berkisah tentang dysfunctional relationship antara Gretchen dan Jimmy, juga orang-orang terdekat mereka. Pertemuan Gretchen dan Jimmy pertama kalinya adalah di sebuah pesta pernikahan. Pernikahan Becca dan Vernon. Becca adalah kakak dari sahabat Gretchen yang bernama Lindsay yang juga mantan kekasih Jimmy. There it goes your dysfunctional relationship start hehehehe.
Story goes, relationship boarden and secrets unfold. Sahabat Jimmy yang bernama Edgar jatuh hati pada Lindsay, membuat pernikahan Lindsay dan Paul goyah. Sementara itu Jimmy mulai akrab dengan Vernon dan Gretchen si perempuan paling woles mulai menunjukkan tanda-tanda nervous breakdown.
Slowly but sure, kekelaman setiap karakter dikupas dan seiring dysfunctional relationship mereka berjalan setiap karakter juga mulai terbuka. I mean, each episode they're trying to be cool and chill but in the end they're just people. Manusia yang ingin di mengerti dan di sayangi.

Sepanjang cerita kita di suguhkan beragam failed problem solving, respon flight or fight saat menghadapi masalah yang dikemas sedemikian rupa dalam bentuk komedi satir. Efeknya adalah lucu bikin ngakak sekaligus pedih-pedih gimanaaa gitu.
Bentuk-bentuk emosi yang di tampilkan begitu powerful. Semua karakter bisa dibilang nggak tau malu dan sangat spontan dalam menujukkan emosi serta opininya. Its kind of vulgar in that way. Satu hal lagi, hampir semua karakter bicara dengan cepat, terutama Gretchen dan Jimmy. A subtitle will help buat yang bukan native.

Jika diibaratkan makanan, serial seperti ini bisa dikatakan acquired taste. Kamu nggak bakalan hooked dan mungkin mengernyitkan dahi sambil memaki, "wtf". Hal itu akan di perparah kalau kamu kurang familiar dengan American Jokes dan Slang, but psychologically speaking karakter yang ada so much real if not a bit exaggerated. YTW tidak hanya menyuguhkan komedi dangkal. If you're really looking into it ada drama dan dinamika psikologi yang sangat kental terlihat. As psychology said, there is always something behind every overt behavior. Nah, jadi sebenarnya kita bisa paham kok kenapa para karakter ini punya perilaku yang unik.
I had seen worst anyway, a series titled "Him & Her" yang mendahului YTW. Keduanya pada dasarnya serupa dalam hal mengungkap ugly truth and darkest inside of a young-adult hanya kemasannya yang berbeda. YTW lebih American Style (karena Him & Her memang british series) dan buat saya pribadi lebih menghibur. Well, akhir kata let me warn you that this is just not you're typical comedy. Nggak yang manis-manis konyol kaya How I Met You're Mother atau dysfunctional tapi hangat kaya Friends. This is a bit rough. Cocok buat selingan, bisa juga buat bahan berkontemplasi. When you just can't laugh because what they're saying is so damn true. Cek ombak dulu aja dengan nonton 1-2 episode. Durasinya hanya 20 menit/episode.



Penasaran? Di sini filmnya
pass : subtitle-zen-by-tante-inez

Monday, September 19, 2016

Review : Childhood's End (2014)



Kali ini saya akan membuat SERIES REVIEW dari SERIAL berjudul CHILDHOODS END. Childhoods End adalah mini-series dari stasiun tv syfy sebanyak 3 episode. Serial ini merupakan adaptasi dari novel yang berjudul sama buah karya Arthur C. Clarke. Semoga bermanfaat sebagai referensi rekan-rekan yang suka nonton.

SINOPSIS
Serial ini berkisah tentang dunia yang tetiba diinvasi oleh alien. On the ordinary day at Earth, people get scared, confused and shocked. Sebuah pesawat alien melayang di langit. Semua sistem komunikasi terganggu, bahkan pesawat, kapal dan kendaraan yang tengah berjalanpun semua berhenti. Berhenti dengan aman, tanpa korban jiwa. Bersamaan dengan itu, manusia-manusia terkasih yang telah tiada begitu saja muncul dan berkata, "Jangan takut, nama saya Karellen." Ya, sosok alien ini menyebut dirinya Karellen dan tidak pernah menunjukkan siapa dirinya. Ia berbicara melalui perantara seorang pria bernama Ricky Stormgren.

Karellen menyatakan bahwa misinya di bumi adalah untuk menolong umat manusia, and he did. Bertahun-tahun setelah kehadirannya bumi hidup dalam sebuah utopia. Dunia baru yang aman, damai, tanpa kekerasan, tanpa teknologi canggih just like the old days. Manusia sendiri seolah berada dalam sebuah euphoria kedamaian, dorongan-dorongan liar manusia untuk berbuat jahat hilang begitu saja. Kesehatan manusia terjaga dengan fasilitas canggih yang disediakan. Pertanian dan perkebunanpun melimpah ruah. Karellen bukan hanya menjadi sosok penyelamat. Bagi sebagian, Karellen adalah Tuhan dan Ricky adalah Sang Nabi.

Sampai suatu hari, ketika Ricky diserang penyakit dan Karellen tidak juga menyembuhkannya. Faith manusia akan Karellenpun mulai goyah. Terlebih ketika peristiwa aneh menimpa para anak-anak. Mereka seperti 'bocah setan' dalam film the Omen. Mistis. Adalah keluarga Greggson yang tengah menantikan kehadiran anak perempuannya. Mereka sudah siapkan namanya, yaitu "Jennifer." Fenomena-fenomena yang tidak dapat dijelaskan menimpa keluarga itu bahkan sebelum Jennifer lahir. Apakah yang terjadi pada bumi? Benarkah Karellen adalah penyelamat bumi?

REVIEW
Pertama memilih untuk nonton ini yang terbayang adalah tipikal film alien yang mencoba menginvasi bumi. Datang ke bumi, memusnahkan manusia dan menjadikan bumi tempat tinggal mereka atau menggunakan bumi sebagai salah satu resource yang menghidupi planet asal mereka. Pikiran itu langsung hilang saat Karellen bicara. Tone suara Charles Dance as Karellen (juga Tywin Lannister) ini bener-bener pas dan convincing. Sepanjang episode bahkan hingga akhir, saya masih bertanya-tanya apa sih agenda dari Karellen ini.
Serial ini dengan sempurna menggiring kita untuk memahami betul kenapa manusia akhirnya 'menyerah' dan yakin akan kata-kata Karellen. Bahwa pada dasarnya kita ingin menikmati hidup dalam kesedarhanaan, kita mendambakan lingkungan yang aman dan kesehatan yang terus terjaga. Karellen berhasil memberikan itu, hingga manusia hidup dalam sebuah euphoria "living the dream" dan terlena di dalamnya.
Pola pemahaman saya akan film ini langsung berubah ketika melihat wujud Karellen. This is not about an alien, its about faith. Its about judgement day and the end of the world. Nonton yang sempet bikin bosen langsung putar otak mengaitkan apa yang dipaparkan dalam film ini dengan ayat-ayat dalam kitab agama saya. Hasilnya? Merinding!
Jennifer and everything about her existence and sect sukses membuat saya spooky. At some-point serial inipun berubah menjadi semi-thriller yang penuh suspense. But, nothing beats the feeling you have at the end of the episode. i literally cried. sangat menyentuh. the backsound just make it worst. i'm a big fan of sad ending, hampir setiap cerpen yang saya tulis selalu punya sad ending and this...one of the best ever.
Serial ini tidak lagi jadi serial yang dull and typical, its something else. Pengalaman baru.

Referensi film/serial Alien yang lain :
V, Helix,

Disini Filmnya
pass:subtitle-zen-by-tante-inez

Friday, April 29, 2016

Review : Ada Apa Dengan Cinta 2




Ada Apa Dengan Cinta 2 is a long overdue sequel, a 14 years time gap. Bermula dari kemunculan mini episode yang di usung oleh salah satu provider instant messaging, somehow the sequel came. Kehadiran sequel ini ditunggu oleh para remaja akhir 90an yang tumbuh dengan kenangan 'geng cinta' dan sastra ala Rangga. Buku curhat dan kaos kaki sebetis jadi hits dikalangan anak gadis saat itu, para pemuda main-main ke perpus cari buku sastra dan mencoba-coba jadi pujangga. At some point it was long forgoten, yet we never really forget and still hoping the sequel will came and it did yesterday, April 28 of 2016. This is how it goes.

Synopsis
Geng Cinta sudah tumbuh dewasa, meniti karir dan hidup masing-masing. Rangga masih di New York dan tengah bergelut dengan 'writers block'. 

Suatu hari, geng Cinta berlibur bersama dalam rangka menghibur kembalinya Karmen dari kemelut hidupnya. Yogyakarta menjadi tujuan wisatanya. Sementara itu Rangga terpanggil untuk kembali ke Indonesia, menemui long-lost-dear-mother setelah sang 'adik' memaksanya pulang.

Pulang=Indonesia=Cinta. 
Berbekal saran dari seorang teman untuk menyelesaikan 'unfinished business' agar writer' s block yg dialami Rangga buyar, Ranggapun pulang, mencari cinta dan ibunya.

Akhirnya Rangga bertemu dengan Cinta di Yogyakarta. Keduanya bertemu dengan semangat menyelesaikan 'unifinished business'. Is it really finish? It is. *wink*


Review
Secara keseluruhan cerita, film ini akan pas jika di tambah sub judul 'Reuni' because that is all about. Bukan cuma reuni para pemain, plot juga reuni yg menyatukan kerinduan penonton, terutama mereka yg masih remaja saat nonton film pertama di rilis. 

Untuk alurnya sendiri tidak ada yg spesial, plot twist-nya juga sederhana dan mengalir. Sebagai penonton, kita nggak dibikin pusing apalagi tergugah untuk menganalisa jauh, mikirin plot hole dan lain-lain. You just enjoy it. Just because THIS IS AADC, THIS IS RANGGA + CINTA. Kita terhanyut dengan ke-khas-an aadc, puisi dan narasi ala rangga, konflik ala geng cinta, dan kocaknya Mili.

Bicara tentang karakter, semuanya pas. Meski sudah tumbuh dewasa, ke-khas-an mereka yang muncul saat remaja masih terasa. Cinta yang jago ngeles, Rangga yang sinis, Mili yg wow...she's my favorite pokoknya. Memang awalnya agak berasa gimanaaa gt liat dialog-dialog Cinta di cafe. Itu loh yang banyak dijadiin meme. Dialognya semacam unbelievable, but then i remember, memang begitulah si Cinta.

Eksekusi adegan, cutting scene dan pemilihan set-nya ruar biasa. Scene favorit saya pas pementasan boneka, sarat makna pokoknya. The silent meant so many things. 

Well, ini adalah film dimana penonton akan terbuai dan memaklumi banyak hal karena ini adalah Sekuel Ada Apa Dengan Cinta Yang Ditunggu 14 Tahun. I'm not complaining, i enjoy it very much. Its lovely.

Satu hal, saya pikir AADC ini, Rangga+Cinta ini, punya potensi untuk menjadi kisah epic modern dengan muatan emosi yang sedalam ini seperti halnya Hayati+Zainudin di Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, if its a tragic ones. Ah....